Kajian.Net

Belajar Bloging,Trik Facebook,Komputer,Internet,Hacking,Kajian Islam.

Roger Garaudy Terkesan Dengan Islam Di Depan Regu Tembak

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

,''Saya lahir di prancis, dan beranjak dewasa pada masa gejolak , Ketika Eropa di cekam teror dengan sasaran kaum yahudi. Begitu ganasnya perlakuan Jerman Nazi kepada mereka sampai sampai saya yang bukan yahudi merasa terusik rasa kemanusiaan saya, seolah rasa kemanusiaan saya terkoyak kalau idak bangit membela mereka ( Yahudi ).''

Melalui artikel singkat ini saya akan sedikit tuangkan curahan hati dari Roger Garaudy ketika dalam proses perjalanan lahir dan batin dalam  mencari kebenaran yang akhirnya membawanya kedalam pangkuan Islam.



Namun setelah gerakan Zionis berkembang dan Israel berdiri sebagai negara kaum yahudi, Saya pun melihat sosok bangsa yang berbeda, Mereka menjadi sombong dan keras kepala, Saya pun akhirnya penasaran dan mencoba menelusuri agama Yudaisme.


Saya sangat bergidik tidak percaya ketika saya membaca tulisan Dr, Herbert Loy, seorang profesor ahli bahasa Ibrani di Oxford University, Beliau mengatakan, '' Sseungguhnya agama Yahudi berdiri di atas dua asas: mengesakan Tuhan dan meyakini Israel adalah bangsa yang terpilih,'' Karena penasaran saya pun mencari hasil penelitian dari pakar pakar yang lainya, Saya pun mendapati ucapan profesor. Arthur Herberg, ''Telah sempurna perkawinan Tuhan dengan Israel disaksikan oleh langit dan bumi tatkala Dia menampakan diri kepada Musa di Sinai, ''

Ini bukan keangkuhan semata mata, ini sumbar mala petaka di kemudian hari
dalam perjalanan saya mencari kebenaran akhirnya saya pun urung memeluk Yahudi.

Barangkali saya tercipta sebagai mekhluk yang gelisah, terutama jika menghadapi kepalsuan kepalsuan, Tadinya saya sangat fanatik kepada agama saya, bahkan saya pernah menjabat ketua pemuda Kristen protestan Prancis, 
tetapi saya mengetahui begitu banyak pertentangan dalam kitab mereka, dam kesenjangan antara ajarsn dsn pelaksanaan, Saya mulai dilanda kebimbangan, Apakah kaum awam selalu menjadi tokoh tokoh gereja? Apakah layak, atas nama agama bangsa bangsa di dunia ketiga dijajah dan di perkosa hak hak mereka?

Saya pun berontak menyuarakan penderitaan kaum protelar, Awalnya saya melihat paratai Komunis merupakan partai penampungan, maka pada tahun 1933 saya menjadi orang Komunis, dan terjun sebagai anggota Komite Pusat Partai selama 24 tahun, tanpa meninggalkan keyakinan saya akan adanya Tuhan.

Untuk mengambil hati mereka ( Komunis ) saya mempelajari doktrin komunisme sampai saya di juluki filosof Komunis, Tahun 1933 Eropa mangalami krisis yang sangat parah hingga 1939, pada waktu itu Hitler naik tahta sebagai pemimpin ( Fueher ) Jerman Raya.

Saya mencoba menebalkan keimanan saya sebagai pegangan, Saya berusaha meyakinkan bahwa nasib saya di jamin oleh Yesus, Sang Juru Selamat, Dalam pada itu, keresahan saya semakin bergolak, menyaksikan penderitaan rakyat jelata menuntut pelampiasan , Ini akibat kekejaman sistem Kapitalisme, dan satu satunya penagkal serta jalan keluar adlah Komunisme, Itu sebabnya saya menceburkan diri menjadi Aktivis Komunise yang fanatik, terutama untuk menentang Hitler dan Nazi, satu satunya faham yang tidak mau berkompromi, Sikap dan pendirian saya waktu itu, menyebabkan sya ditangkap pada bulan September tahun 1940, Saya di buang ke kamp konsentrasi Jelfa di padang pasir Aljazair sampai akhir perang dunia II.

Kamp tempat saya di kurung betul betul sebuah neraka, Makanan sangat kurang, kerja paksa sangat berat, para penjaga teramat ganas, Seluruh penghuni kamp menjerit, mereka ibarat minyak bahan bakar yang menunggu percikan api, Dan saya pemantiknya, Saya pimpin mereka melakukan pemberontakan, Keributan yang saya timbulkan membuat para penjaga lari tunggang langgang ketakutan, Namun mereka punya senjata dan kami cuma punya marah dan kesumat, Dalam tempo singkat kami telah di bungkam dan di lucuti, Tangan dan kaik saya di rantai, Lalu saya di jatuhi hukuman mati dalam suatu mahkamah darurat dalam suatu mahkamah darurat yang berlangsung hanya beberapa menit.

dengan mata di tutup kain hitam, saya di bawa ke padang yang terbuka, Di depan saya sudah siap satu regu tembak tentara Muslim Aljazair untuk mengeksekusi saya, Jarum waktu berputar dengan cepat saya sudah siap, Para tahanan lain sudah memejamkan mata ketika komandan kamp memberi aba aba perintah tembak mati para tahanan, Namun apa yang terjadi? para regu tembak tentara muslim itu tidak juga melepaskan tembakan meskipun perintah sudah di keluarkan sampai tiga kali, Saya tidak apa sebabnya, saya lihat mereka berdebat keras dengan komandan kamp, maklum saya tidak bisa bahasa Arab. 

Selang eberapa hari saya baru tahu, dari seorang pembantu di kemiliteran Prancis berkebangsaan Aljazair yang bekerja di kamp itu, Bahwa tentara Muslim dilarang oleh agamanya membunuh orang yang tak bersenjata, Saya pun terdiam mendengar panjelasan itu, saya terharu, Sungguh saya tiba tiba seperti melihat Tuhan di wajah para regu tembak itu, Dan inilah perkenalan saya denagn Islam, Sungguh kisah yang jauh lebih mempengaruhi batin saya ketimbang pendidikan bertahun tahun di Universitas Sorbone.

Saya bersyukur kepada Tuhan,Ketika saya di beri tahu dan entah atas pertimbangan apa hukuman mati saya di batalkan, Selepas dari tahanan saya menetap di Ajazair beberapa tahun lamanya, Saya menyelami kehidupan masyarakat Arab dan mencoba mengenal lebih dalam agama mereka, Karena itulah saya berkunjung kerumah Syaikh Muhammad Basyir Ibrahimi, Ketua persatuan Ulama Aljazair, Hubungan kami cepat akrab, begitu pula dengan Ammar Aujaizan, dengan bukunya, Al-Jihad Al-Afdhal ( perjuangan yang mulia ), Saya sempat pelajari versi Prancinya.

Saya menunduk malu kepada Syaikh Ibrahimi, Ia telah memberikan kepada saya sebuah pengertian tentang Islam, Ynag sekian lama tertutup tabir fitnahdan kecurigaan bangsa Barat, Begitu besar peristiwa ini bagi hidup saya, Sehingga saya menganggap pertemuan kedua dengan Isalm.

Tahun 1945, catatan harian saya berubah, Saya di angkat menjadi anggota mejelis Nasional, kemudian menjabat wakil ketua dan senator, Dan dari sanalah saya dapat memandang  peta politik Prancis dengan jelas, Bahwa keberhasilan terkadang lebih buruk dari kegagalanya, Sistem kapitalisme umpamanya, telah melahirkan penjajahan dan peperangan guna menindas bangsa bangsa di dunia ketiga, Begitu pula dengan Kmonisme yang mengeksploitasi rakyat jelata sebagai jargon politik bagi kepentinhan para penguassa.

Gara gara pandangan saya yang dianggap merugikan perjuangan, saya pun di pecat dari keanggotaan partai Komunis pada tahun1970, Saya kemudian bergabung dengan UNESCO mendirikan lembaga pengkajian kebudayaan intternasioanal untuk membongkar hipokritisme Barat dan menyingkap peran non-Barat bagi peradaban, Melalui buku buku yang saya terbitkan, sengaja saya beberkan sisi gelap kebudayaan Barat, yang tercerabutnya dimensi kemanusiaan dan terpisahnya kemanusiaan dari keruhanianya.

Saya bertambah sadar bahwa Barat dengan sistem kapitalisme dan komunismenya telah  menjadikan bangsa bangsa di dunia timur sebagai kelinci percobaan, Mereka mengadu domba kemudian memberikan uang dan senjata agar dapat melanjutkan nafsu penjajahan, Dengan demikian bangsa timur akan selalu bergantung kepada Barat, Lebih jelas lagi adalah sikap ekspansionis Israel yang di pasang di timur tengah untuk melestarikan suasana seba tegang sepanjang zaman, Ini buka peristiwa kebetulan, melainkan kesengajaan yang di rancang secara sistematis.

Selama bertahun tahun telah di rancang kebencian bangsa Jerman kepada yahudi, sehingga, karena selalu merasa terancam, Munculah faham Zionisme, yang di dirikan oleh Theodor Herzel, Ia seoramg atheis yang menggunakan dalih dalih kitab Injil untuk menyokong propaganda pembentukan negara Israel Raya di tanah yang di janjikan, Di tanamkanlah opini Barat bahwa mewujudkan negara yahudi di  atas tanah yang telah di janjikan  yang tadinya milik bangsa palestina adalah kewajiban suci bagi mereka yang meyakini kebenaran Injil.





















Penyerangan Israel ke lebanon dan pendudukan atas jalur gaza serta tepi barat sungai Yordan, lalu di susul dengan pengukuhan Yerusalem sebagai ibu kota negara setelah di rampas dari tangan bangsa Arab,

akibatnya, saya di tuduh anti Yahudi , padahal saya cuma bermaksud menyampaikan ketidaksetujuan saya terhadap tindakan sewenang wenang gerakan Zionis, Agar lebih jelas saya tegaskan lagi lewat buku saya, The Case of Israel, yang di terbitkan oleh Shorouk Internasional, London.

Dari pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa sistem di Barat acap kali sangat menyiksa, karena menimbulkan pertentangan antara akal dan perasaan, Banyak perkara yang dalam pandangan akal di nilai benar tetapi menuriut perasaan tidak benar, Saya mencoba mencari titik temu antara akal dan pikiran, dan saya tidak dapat memperolehnya kecuali dalam Islam, Agama ini Islam menawarkan sejumlah dogma yang tidak hanya boleh di cerna oleh perasaan  tetapi  juga dengan pikiran,  Begitu banyak ayat ayat dalam Al-Qur'an yang membicarakan fenomena alam, dan tak satupun yang bisa di bohongkan oleh sains modern.
Disamping itu, Islam pun mengantarkan kepada kita pada pemahaman bahwa manusia dan alam dengan segala isinya adalah suatu kesatuan  yang tak terpisahkan, karena sama sama makhluk Tuhan.

Saya yakin hasil dari telaah saya tidak lahir secara emosional, Lantaran pada saat itu saya bukan pemeluk agama Islam, Saya hanya ingin berkata jujur bahwa ajaran Nabi Ibrahim, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad  
saling menyempurnakan.

Karena itu Islam menolak sistem theokrasi, bahwa Raja, pemuka agama, dan penguasa adalah wakil Tuhan di muka bumi, yang kekuasaan mereka adalh tahta suci yang terbebas dari kesalahan dn kekeliruan,
Islam hanya mengakui kekuasaan yang diperoleh melalui bai'at berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat, Artinya kekuasaan hanya milik Allah Ta'ala yang di percayakan kepada seseorang berdasrkan persetujuan mereka bersama di antar rakyatnya.

Setelah melalui proses pemikiran yang panjang dan mendalam,akhirnya saya putuskan masuk Islam secara remi pada 2 Juli 1982, ketika bulan ramadhan tahun 1402 Hijriyah, saya umumkan kesaksian itu di lembaga kebudayaan Islam di Jenewa, Nama Roger Garaudy saya ganti menjadi Raja Garaudy. SELESAI.

Dari kisah nyata di atas kita ambil beberapa kesimpulan, bahwa perjalanan seseorang untuk masuk ke dalam pelukan Islam kadang mudah dan cepat, namun apa yang di alami Raja Garaudy sungguh proses yang sangat panjang dan melelahkan melalui berbagai penelitian ilmiah untuk dapat membuktikan kebenaran yang hakiki, Saya yakin proses yang seperti itu sangat memberikan kesan yang mendalam dan lebih menguatkan ke Imanan.
 Kini Beliau telah berpulang kembali kepangkuan sang Khalik , semoga perjuanganya dalam mencari kebenaran serta amal ibadahnya diterima disisi Allah Ta'ala, dan di ampuni segala dosa
AMIN..

BACA JUGA :

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar